Tata Cara Dalam Membuat Surat Jual Beli Tanah

Tanah menjadi salah satu investasi yang sangat populer di kalangan banyak orang. Tanah menjadi pilihan banyak orang karena memang sangat menguntungkan kedepannya. Investasi tanah bisa dilakukan oleh siapa saja, asalkan mereka memiliki modal yang cukup untuk bisa membeli tanah yang mereka inginkan. Untuk bisa membeli tanah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh si pembeli sebelum membeli sebuah tanah untuk hal berinvestasi. Hal yang perlu dilakukan sebelum membeli tanah adalah dengan pihak penjual dan pihak pembeli wajib menyertakan atau pun mendapatkan surat jual beli tanah.

Biasanya surat ini dibuat dari pihak penjual dan pihak pembeli tanah setelah mereka bersepakat untuk mengadakan jual beli tanah. Surat jual beli tanah ini membutuhkan tanda tangan di atas materai dari kedua belah pihak dalam perjanjian. Untuk itulah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan transaksi jual beli tanah, serta harus memastikan tanah yang akan dibeli. Proses transaksi ini juga tidak bisa dilakukan secara sembarangan tanpa ada aturan yang jelas. Di bawah ini ada beberapa hal penting yang perlu dilihat dalam pembuatan surat jual beli tanah, antara lain:

  1. Membuat Surat Jual Beli Tanah

Untuk bisa membuat surat jual beli tanah dapat dilakukan dengan mendatangi notaris atau di bawah tangan (tanpa pengawasan seorang notaris). Kedua surat tersebut bisa dijadikan sebagai alat bukti jika sewaktu-waktu ada sengketa tanah. Namun perlu diingat bahwa surat di bawah tangan masih cukup lemah, karena kemungkinan surat ini masih belum berlaku di mata hukum, karena tanpa ada pengawasan notaris. Dan kemungkinan buruknya adalah apabila ada sebuah masalah yang akan bisa menghambat suatu hari nanti. Hukum aturan ini sudah dicantumkan dalam sebuah aturan Yurispudensi Mahkamah Agung No 775K/Sip/1971. Untuk bisa memiliki surat akta tanah (PPAT) yang resmi bisa dengan mendatangi PPAT/Notaris terdekat di temapt tempat tinggal.

  • Persyaratan Dokumen

Untuk dokumen yang perlu dipersiapkan adalah dari kedua belah pihak, yakni penjual dan pembeli. Dokumen untuk penjual seperti fotokopi KTP pemilik dan pasangan (bagi yang sudah menikah), fotokopi Kartu Keluarga (KK), fotokopi akta nikah, sertifikat tanah yang asli, Surat Tanda Terima Setoran PBB yang asli, surat persetujuan suami/istri, surat keterangan kematian, surat keterangan ahli waris. Dan dokumen untuk pembeli seperti fotokopi KTP, fotokopi kartu keluarga (KK), fotokopi akta nikah (bagi yang sudah menikah), dan fotokopi NPWP.

Setelah semua dokumen sudah dipersiapkan maka dari PPAT akan membuat surat jual beli tanah tersebut. Dan pihak PPAT akan menjelaskan secara detail isi dari akta tanah tersebut dan memastikan persetujuan yang sah dari pihak penjual dan pembeli. Surat ini biasanya akan di buat dalam dua rangkap asli dan disimpan oleh PPAT dan akta yang lainnya diberikan ke Kantor Pertahanan di lokasi setempat. Penjual dan pihak pembeli akan diberikan salinan surat jual beli tanahnya.

  • Proses Balik Nama

Setelah akta sudah dibuat, maka selanjutnya adalah melakukan proses balik nama sertifikat tanah antara si penjual dan si pembeli. Proses ini akan dilakukan oleh pihak PPAT yang kemudian menyerahkan berkas tersebut ke Kantor Pertahanan. Kemudian nama pembeli akan ditulis dan menggantikan nama dari pemilik tanah sebelumnya yang pernah tertera di sertifikat tanah tersebut. Kepala Kantor Pertahanan pun juga akan ikut menandatangani surat itu.

Mungkin informasi di atas bisa memudahkan kalian yang sedang ingin berinvestasi tanah dan berniat membeli sebuah tanah. Lebih baik untuk memahami hal yang perlu dilakukan sebelum membeli tanah tanpa ada persiapan atau pun informasi mengenai transaksi jual beli tanah serta dalam hal pembuatan surat jual beli tanah.

Pratibha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *