Bacaan Niatan Dalam Shalat Tarawih Serta Witir Bersama Maknanya

Pada bulan suci Ramadhan, Shalat tarawih sebagai amalan sunnah yang disarankanm. Shalat tarawih kebanyakan dikerjakan secara berjamaah selesai tuntas mengerjakan shalat Isya. Pembuatan shalat tarawih didului dengan membaca niatan lebih dulu layaknya seperti shalat yang lain.
Aisyah RA istri Nabi Muhammad dalam sebuah hadis bercakap jika “Rasulullah terus lakukan Shalat (malam) di saat di antara tuntas shalat ‘isya, yang disebutkan orang dengan “atamah” sampai fajar, sejumlah sebelas rakaat.” (H.R. Muslim).
Diambil dari “Melafalkan Niat Dalam Shalat” oleh Cholil Nafis, menurut persetujuan beberapa penganut mazhab Imam Syafi’iy serta Imam Ahmad bin Hambal, melafalkan tekad shalat tarawih mendekati takbiratul ihram itu hukumnya sunnah. Melafalkan niatan saat sebelum takbir dapat menolong untuk memperingatkan hati. Dengan demikian, waktu satu orang salah dalam melafalkan maksudnya, jadi yang dikira ialah maksudnya, bukan lafal dari kemauan itu.
Dan dalam Himpunan Ketetapan Tarjih Muhammadiyah, tercatat “Saat kamu akan jalankan shalat, jadi ucapkanlah “Allahu Besar dengan tulus niatmu lantaran Allah. ” Tekad dalam masalah ini adalah penyengajaan buat menjalankan shalat.
Tekad shalat dalam shalat tarawih dengan bahasa Arab, tidak serupa bacaan maksudnya di antara yang dieja dengan orang imam serta seorang makmum. Soal ini berada pada bacaan kemauan apa seorang berperan selaku “imam” atau bertindak selaku “makmum” dalam shalat tarawih itu.
Untuk lebih lengkapnya berikut di bawah ini lafal kemauan dalam shalat tarawih saat jadi imam serta makmum :
1. Posisi Jadi Imam
“Ushalli sunnatat taraa wii hi rak’atayni mustaqbilal qiblati adaa ‘an imaa man lillaa hi ta’aa laa.”
Maknanya : “Saya sengaja sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai selaku imam lantaran Allah.”
2. Posisi Menjadi Makmum
“Ushalli sunnatat taraa wii hi rak’atayni mustaqbilal qiblati adaa ‘an ma’muu man lillaa hi ta’aa laa.”
Maknanya : “Saya berniat sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai jadi makmum lantaran Allah.”
Di Indonesia dalam praktek shalat tarawih ini ada ketidaksamaan jumlah rakaat yang diselesaikan. Ada yang beranggapan shalat tarawih ditangani 8 rakaat, tapi ada pula yang beranggapan lakukan 20 rakaat. Ke-2 opini itu miliki alasan yang serupa sama-sama kuat.
Sedang untuk shalat witir, dapat dijalankan dengan 2 rakaat lalu diteruskan satu rakaat atau tiga rakaat sekalian. Shalat witir pada prinsipnya adalah shalat yang dilaksanakan dengan rakaat bilangan ganjil seperti satu rakaat, tiga rakaat, dan sebagainya.
Dalam melaksanakan shalat witir, terdapatnya ketidaksamaan bacaan niatan apa tempatnya menjadi imam atau makmum, serta bergantung pula dengan jumlah rakaatnya. Di bawah ini keterangan selengkapnya :
1. Niat Shalat Witir Tiga Rakaat Sekalian
“Ushallii sunnatal-witri tsalasa’raka’atin mustaqbilal qiblati (makmuuman/imamaman) lillaahi ta’aalaa.”
Berarti : “Saya (bermaksud) kerjakan shalat sunnah witir, tiga raka’at dengan menghadap kiblat, (makmum/imam), lantaran Allah Ta’ala”.
2. Niat Shalat Witir Dua Rakaat :
“Ushallii sunnatal-witri rak’ataini mustaqbilal qiblati (makmuuman/imaaman) lillahi ta’aalaa.”
Maknanya : “Saya punya niat lakukan shalat sunnah witir, dua rakaat dengan menghadap kiblat, (makmum/imam), lantaran Allah Ta’ala.”
3. Niat Shalat Witir Satu Rakaat :
“Ushallii sunnatal-witri rok’atan mustaqbilal qiblati (makmuuman/imamaman) lillaahi ta’aalaa.”
Maknanya : “Saya bermaksud melakukan shalat sunnah witir, satu rakaat dengan menghadap kiblat, (makmum/imam), lantaran Allah Ta’ala.”
Tersebut bacaan tekad shalat tarawih serta witir, dengan membaca niat sama dengan status serta jumlah rakaat, didambakan shalat yang ditangani dapat berbuah jadi amalan shalih.

Pratibha