Fri. Jan 28th, 2022

Dalam bulan suci Ramadhan, Shalat tarawih sebagai amalan sunnah yang disarankanm. Shalat tarawih rata-rata dijalankan secara berjamaah sehabis usai melakukan shalat Isya. Pembuatan shalat tarawih didului dengan membaca kemauan lebih dahulu layaknya seperti shalat lainnya.
Aisyah RA istri Nabi Muhammad dalam sebuah hadis berujar kalau “Rasulullah terus melakukan Shalat (malam) di saat di antara tuntas shalat ‘isya, yang dimaksud orang dengan “atamah” sampai fajar, sejumlah sebelas rakaat.” (H.R. Muslim).
Dilansir dari “Melafalkan Niat Dalam Shalat” oleh Cholil Nafis, menurut perjanjian banyak penganut mazhab Imam Syafi’iy dan Imam Ahmad bin Hambal, melafalkan niatan shalat tarawih saat takbiratul ihram itu hukumnya sunnah. Melafalkan niat saat sebelum takbir dapat menolong buat memperingatkan hati. Dengan demikian, saat satu orang salah dalam melafalkan maksudnya, karena itu yang dikira merupakan tujuannya, bukan lafal dari niatan itu.
Dan dalam Himpunan Ketetapan Tarjih Muhammadiyah, terdaftar “Saat kamu mau jalankan shalat, jadi ucapkanlah “Allahu Besar dengan tulus niatmu lantaran Allah. ” Kemauan di dalam masalah ini adalah penyengajaan buat melakukan shalat.
Niat shalat dalam shalat tarawih ke bahasa Arab, tidak serupa bacaan maksudnya di antara yang diucapkan dengan seorang imam juga seseorang makmum. Perihal ini berada pada bacaan kemauan apa seorang bertindak selaku “imam” atau berperan selaku “makmum” dalam shalat tarawih itu.
Untuk selengkapnya berikut di bawah ini lafal kemauan dalam shalat tarawih saat jadi imam dan makmum :
1. Posisi Menjadi Imam
“Ushalli sunnatat taraa wii hi rak’atayni mustaqbilal qiblati adaa ‘an imaa man lillaa hi ta’aa laa.”
Maknanya : “Saya berniat sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai menjadi imam lantaran Allah.”
2. Posisi Selaku Makmum
“Ushalli sunnatat taraa wii hi rak’atayni mustaqbilal qiblati adaa ‘an ma’muu man lillaa hi ta’aa laa.”
Berarti : “Saya berencana sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum sebab Allah.”
Di Indonesia dalam praktek shalat tarawih ini ada ketidaksamaan jumlah rakaat yang ditangani. Ada yang berasumsi shalat tarawih dijalankan 8 rakaat, akan tetapi juga ada yang beranggapan melaksanakan 20 rakaat. Ke-2 arahan itu mempunyai asas yang serupa imbang.
Dan buat shalat witir, dapat ditangani dengan 2 rakaat lalu diteruskan satu rakaat atau tiga rakaat sekalian. Shalat witir pada prinsipnya sebagai shalat yang dikerjakan dengan rakaat bilangan ganjil seperti satu rakaat, tiga rakaat, dan lain-lain.
Dalam kerjakan shalat witir, tersedianya ketidaksamaan bacaan tekad apa tempatnya jadi imam atau makmum, dan bergantung pula dalam jumlah rakaatnya. Berikut ini keterangan selengkapnya :
1. Niat Shalat Witir Tiga Rakaat Sekalian
“Ushallii sunnatal-witri tsalasa’raka’atin mustaqbilal qiblati (makmuuman/imamaman) lillaahi ta’aalaa.”
Berarti : “Saya (punya niat) kerjakan shalat sunnah witir, tiga raka’at dengan menghadap kiblat, (makmum/imam), lantaran Allah Ta’ala”.
2. Niat Shalat Witir Dua Rakaat :
“Ushallii sunnatal-witri rak’ataini mustaqbilal qiblati (makmuuman/imaaman) lillahi ta’aalaa.”
Berarti : “Saya punya niat melakukan shalat sunnah witir, dua rakaat dengan menghadap kiblat, (makmum/imam), lantaran Allah Ta’ala.”
3. Niat Shalat Witir Satu Rakaat :
“Ushallii sunnatal-witri rok’atan mustaqbilal qiblati (makmuuman/imamaman) lillaahi ta’aalaa.”
Berarti : “Saya bermaksud kerjakan shalat sunnah witir, satu rakaat dengan menghadap kiblat, (makmum/imam), sebab Allah Ta’ala.”
Itu bacaan niat shalat tarawih serta witir, dengan membaca tekad sama dengan status dan jumlah rakaat, dikehendaki shalat yang dilakukan dapat berbuah jadi amalan shalih.