Cara Aman Untuk Konsumen dalam Membeli Rumah

Keinginan miliki rumah sendiri merupakan perihal yang lumrah bagi setiap pasangan. Bahkan, label “rumah sendiri” seakan jadi standar kesuksesan bagi setiap orang.

Hal ini tentu jadi perhatian sendiri bagi developer atau pengembang properti untuk menggunakan suasana tersebut. Para developer pun berlomba-lomba membawa dampak iklan dan mengimbuhkan penawaran mengundang hasrat kepada konsumen.

Namun, customer harus ingat supaya tidak terburu-buru menyita ketentuan untuk belanja rumah Pik 2 yang ditawarkan. Hal ini mengingat banyaknya developer bodong yang memberi iming-iming diskon besar atau harga murah di bawah harga pasar.

Perlu dicatat, berdasarkan information tahunan BPKN, tercatat pengaduan customer selama 2020 raih 1.276 laporan. Dari kuantitas itu, pengaduan customer sektor perumahan raih 507 laporan, atau tertinggi dibanding sektor lain.

Untuk terhindar dari hal-hal yang tidak di idamkan sudah pasti ada yang harus diperhatikan customer didalam mengenali perbedaan perbedaan developerasli bersama dengan developer bodong.

Ada 3 ciri developer rumah bodong, yakni terdapat perbedaan rincian informasi yang disampaikan dari brosur bersama dengan customer service, menjual harga murah di bawah pasaran yang tak masuk di akal, kredibilitas dan perizinan yang meragukan Jasa developer sebenarnya mampu menolong seseorang untuk pilih hunian yang di idamkan tanpa harus repot. Namun, customer tetap harus jeli supaya tidak menimbulkan kerugian. Berikut adalah tips belanja rumah dari developer yang aman.

 

1  Cari mengetahui dan memperhitungkan reputasi developer

Mencari mengetahui reputasi developer adalah cara awal yang harus dilakukan sebelum saat memilihnya. Dengan mengetahui reputasinya, customer mampu memperhitungkan dan menilai apakah developer tersebut mampu bertanggung jawab didalam berbagai urusan nantinya.

Cara mudahnya mampu membaca secara teliti lewat website dan fasilitas sosialnya untuk memandang portofolio dari proyek-proyek apa saja sudah mereka melaksanakan selama ini. Selain itu, rajin-rajin termasuk untuk mengecek pemberitaan di fasilitas dan internet untuk mengetahui apakah developer tersebut dulu tersandung kasus-kasus negatif yang merugikan konsumennya.

 

2 Perhatikan legalitas Sertifikat Hak Milik (SHM) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

Untuk menjauhi persoalan yang mampu berjalan di sesudah itu hari seperti penyegelan oleh pihak berwenang, penolakan kredit bank, dan persoalan lainnya, maka customer harus mencermati legalitas dari rumah yang mendambakan dibeli dari developer.

Tanyakan ke pihak developer apakah rumah tersebut sudah miliki Sertifikat Hak Milik (SHM) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau belum. Bila belum ada, sebaiknya pembelian ditunda. Hal ini mutlak karena setiap mendirikan bangunan gedung di Indonesia, maka harus hukumnya untuk miliki surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang sudah diatur oleh Undang-Undang No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

 

3 Tanyakan kejelasan sertifikat rumah dan kapan mampu berubah nama

Biasanya dikala belanja rumah lewat developer, sertifikat rumah bakal sudah diganti nama dari pemilik lama jadi nama developer. Jika tertarik membeli, pastikan customer menanyakan lebih mengetahui dan sudah pasti kapan sertifikat tersebut mampu berubah jadi atas nama konsumen.

Hal ini terlampau mutlak karena kalau sertifikat belum balik nama jadi nama sendiri, maka customer tidak mampu melaksanakan alih kredit (take over) ke bank lain dari bank kala ini. Pihak bank bakal berharap sertifikat atas nama customer supaya bank mampu menyetujui pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) customer dan dijadikan sebagai jaminan yang sah di mata hukum.

 

4 Jangan membayar Down Payment (DP) sebelum saat KPR disetujui

Sebelum pinjaman yang diusulkan disetujui oleh pihak bank, maka customer jangan dulu sudi membayar duit wajah ataudown payment (DP) yang sudah ditentukan kepada pihak developer.

Alasannya simple karena tidak ada jaminan pihak bank bakal menyetujui KPR rumah yang di idamkan meskipun developersudah bekerja sama bersama dengan bank. Jika tetap nekat membayar DP kedeveloper dan KPR ditolak oleh bank, maka bakal berisiko duit DP tersebut sulit ulang atau beroleh potongan sekian persen.

5 Pelajari kewajiban developer kalau berjalan wanprestasi

Risiko belanja hunian melaluidevelopermemang besar terjadi. Oleh karena itu, terlampau mutlak untuk mempelajari apa saja kewajiban developerjika sampai berjalan wanprestasi. Langkah mudahnya adalah harus membaca secara rinci dan mengetahui Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) sebelum saat menandatangani berita acara serah menerima hunian tersebut.

 

6  Menjadwalkan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB)

Langkah lebih lanjut kalau sudah setuju bersama dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB), maka segeralah menjadwalkan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) yang mana merupakan bukti sah hak atas tanah dan bangunan sudah berubah darideveloperkepada pihak lain, yakni customer sebagai pemilik baru. AJB ini harus dilakukan bersama dengan developer di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

toha