Fri. Aug 12th, 2022

PT Pertamina (Persero) tengah konsentrasi meningkatkan produksi bahan bakar ramah lingkungan atau green energy. Selainnya untuk melindungi lingkungan, peningkatan energi ramah lingkungan didorong untuk mengurangi keterikatan bahan bakar fosil, yang sumber cadangannya terus tipis.

Minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) menjadi satu diantara komoditas khusus energi baru terbarukan (EBT) yang dipakai Pertamina untuk mesubstitusi bahan bakar fosil dan hasilkan energi ramah lingkungan.

Biasanya, limbah sawit digunakan untuk bahan bakar Boiler mesin produksi minyak sawit.

Jenis Bahan Bakar dari Sawit yang diproduksi Pertamina

Lalu, produk bahan bakar apa yang telah dan akan dibuat oleh Pertamina dengan memakai CPO?

1. D-100

D-100 sebagai bahan bakar tipe solar, yang dibuat dari CPO yang sudah diolah selanjutnya, hingga getah, impurities, dan baunya lenyap, atau umum disebutkan RBDPO. Beberapa lalu Direktur Khusus Pertamina, Nicke Widyawati, dan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, sudah lakukan eksperimen perform pemakaian D-100 dalam kombinasi bahan bakar kendaraan.

D-100 yang dibuat Pertamina mempunyai detail Cetane Number yang tinggi sekali, yakni sampai 79. Hingga memang dipercaya bisa hasilkan perform kendaraan yang lebih bagus sebagai kombinasi bahan bakar.

Deputy CEO PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Budi Santoso Syarif menerangkan, dalam tes perform itu bahan bakar yang dipakai ialah kombinasi D-100 sekitar 20 %, Dexlite sekitar 50 %, dan FAME sekitar 30 %.

“Menurut hasil tes lab kami, terarah jika angka Cetane Number bahan bakar kombinasi D-100 pada Dexlite dan FAME yang dipakai itu capai angka minimum 60 atau semakin tinggi berbahan bakar diesel yang ada sekarang ini,” bebernya.

Begitu halnya hasil tes emisi kendaraan memperlihatkan opacity atau kepekatan asap gas buang menurun jadi 1,7 %, dari mulanya 2,6 % saat tidak digabung dengan D-100.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengeklaim pemakaian bahan bakar D-100 untuk kendaraan bisa hasilkan perform mesin yang bagus dan ramah lingkungan. “Saat saya lakukan lawatan kerja ke DHDT Refinery Unit (RU) II punya Pertamina di Dumai, saya bersama Bu Dirut memakai mobil yang telah dites berbahan bakar D-100, dan hasilnya suara mesin lembut. Ini sekalian publikasi hasil eksperimen pemrosesan RBDPO 100 %,” kata Agus.

Untuk memproduksi D-100, sekarang ini dilaksanakan Pertamina di Kilang Dumai. Di mana, sehari-harinya perseroan sanggup menghasilkan 1.000 barrel D-100.

2. Green gasoline

Pertamina tengah siap-siap untuk produksi bahan bakar tipe bensin yang ramah lingkungan atau green gasoline. Eksperimen green gasoline sebetulnya telah dilaksanakan semenjak tahun 2019 dan 2020, di sarana Kilang Plaju dan Kilang Cilacap. Hasil eksperimen juga disebutkan sukses.

Tetapi eksperimen itu baru sanggup memproses minyak sawit RBDPO sejumlah 20 %. Wakil Direktur Khusus PT Kilang Pertamina Internasional, Budi Santoso Syarif, menjelaskan, meskipun uji-coba green gasoline yang sudah dilakukan Pertamina baru sanggup memproses minyak sawit sejumlah 20 %, tetapi hal itu pertama di dunia ingat memproses minyak sawit jadi Green Gasoline tidak pernah dilaksanakan dalam rasio operasional.

“Memproses minyak sawit jadi green diesel telah dilaksanakan oleh beberapa perusahaan lain di dunia, tetapi memproses minyak sawit jadi green gasoline tidak pernah dilaksanakan di dunia dan Pertamina ialah yang pertama karena sejauh ini hal itu masih hanya rasio laboratorium untuk penelitian,” katanya.

3. Green avtur

Paling akhir, Pertamina mengatakan persiapannya untuk lakukan eksperimen produksi bahan bakar avtur ramah lingkungan atau green avtur di akhir 2020. Produksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan itu akan dilaksanakan di Kilang Cilacap.

Direktur Khusus Pertamina, Nicke Widyawati, menerangkan, eksperimen pertama produksi Green Avtur akan dilaksanakan dengan Co-Processing injeksi 3 % minyak kelapa sawit atau CPO yang sudah diolah selanjutnya hingga lenyap getah, impurities dan baunya (RBDPO) di sarana existing Kilang Cilacap.

“Eksperimen green avtur ini sebagai sisi dari roadmap peningkatan biorefinery Pertamina dalam rencana merealisasikan green energi di Indonesia,” tutur Nicke.

Selanjutnya, Nicke mengatakan, faksinya akan membuat dua Standalone Biorefinery baru, yakni di Cilacap dan Plaju. Standalone Biorefinery di Cilacap nanti bisa menghasilkan green energy memiliki 6.000 barel setiap hari, sedang Standalone Biorefinery di Plaju dengan kemampuan 20.000 barel setiap hari. Ke-2 standalone Biorefinery itu diproyeksi sanggup menghasilkan Green Diesel atau Green Avtur dengan bahan baku 100 % minyak nabati.

By arief