Thu. Jun 30th, 2022

Jika teman-teman mendengar kata Labuan Bajo, tentu yang terbayang adalah pantai, laut, diving, dan Komodo. Well, tidak salah sih, namun it’s more than that!

Bulan Oktober-November lalu, aku solo travel ke Labuan Bajo tanpa planning-planning. (Anaknya memang impulsive, bund). Faktor utama yang membuat aku langsung gas adalah gara-gara kebetulan aku sedang di Bima yang lumayan dekat ke Labuan Bajo, walaupun tidak tersedia pesawat langsung berasal dari Bima ke Labuan Bajo. Lalu gimana dong? Ya naik kapal lah mylov!

Dari Pelabuhan Sape, Bima, ke Labuan Bajo mampu naik kapal feri yang memakan saat antara 6-8 jam bergantung cuaca. Kapal hanya sekali di dalam sehari menyeberang, dan berangkat kurang lebih jam 8 atau 9 pagi berasal dari Sape. Harganya hanya 65.000 IDR. Murah.

Paling tidak dengan informasi. Jadi jangan pernah bepergian tanpa bekal apapun. Saya apalagi searching sampai peristiwa Labuan Bajo dan rencana pembangunan pemerintah pada pengembangan tempat wisata Labuan Bajo, which is unnecessary but you know, I am a detailed person.

Dari informasi yang aku gali, target wisata Labuan Bajo biasanya bukan di Labuan Bajonya itu sendiri, melainkan pulau-pulau kecil yang tersedia di kurang lebih Labuan Bajo.

Dengan demikian, wisata utamanya adalah island-hopping yang membuat kami perlu menggunakan perahu. Sebagai solo traveler, bakal sangat mahal sekali kecuali kami nyewa perahu sendirian, menjadi jalan keluarnya adalah cari paket open trip.

Tapi jangan khawatir, tersedia banyak sekali yang sedia kan paket open trip baik yang one day sail, 3D2N, 4D3N dan lain sebagainya.

Harga juga sangat beragam berasal dari sejutaan untuk one day, sampai ratusan juta yang pake Kapal Luxury Phinisi. Saya cek di Instagram, tersedia lebih dari satu operator yang aku lihat, dan selanjutnya sehabis tanya-tanya lebih dari satu menit, aku book paket 3D2N seharga 2,3 juta.

Saran aku di dalam mencari agen atau operator, cari yang itinerary-nya sesuai, jadwal sailingnya pas dengan jadwal anda, dan dokumentasi foto atau videonya bagus. Karena kecuali bepergian solo, kami tidak perlu kuatir foto kami jelek-jelek .

 

Hari Pertama: Penyeberangan

Karena sedang pandemi, aku juga menyiapkan semua sesuai protokol dan prosedur COVID-19. Saya pastikan badan sehat, ambil rapid test dan selamanya menggunakan masker. Karena Bima dan Labuan Bajo tetap zona dengan masalah rendah saat itu, aku memastikan untuk berangkat.

Pagi aku gas berasal dari Kota Bima ke Pelabuhan Sape, kurang lebih 1.5 jam. Tapi pagi itu juga tersedia kawan aku yang rumahnya dekat Pelabuhan membantu aku membookingkan antrian tiket. Sehingga dating tidak perlu antri gara-gara udah mempunyai antrian.

Kapal berangkat kurang lebih pukul 8.30 WITA. Tidak banyak penumpang saat itu. Di kapal aku berjumpa dengan lebih dari satu penumpang lain dan beraneka kisah yang mereka ceritakan.

Lautnya tenang nyaris tanpa ombak, di perjalanan kami disuguhi pemandangan Gunung api Sangiang, pulau-pulau tak berpenghuni dengan sabana yang sedang menguning, dan lumba-lumba!. Menjelang sore, kapal berlabuh di Labuan Bajo.

Saya diantar mirip kawan yang kenalan di kapal sampai ke hotel. Tips: Jika anda memesan berasal dari Traveloka, pesan untuk satu hari saja, selanjutnya besoknya di extend manual di hotel. Lebih murah.

Sesampai di hotel, check-in, istirahat sebentar, ganti baju, selanjutnya keluyuran untuk mencari makan! Labuan Bajo tidak pelosok-pelosok sangat kok. Starbuck dan KFC pun ada.

Tapi ngapain jauh-jauh ke Labuan Bajo kecuali hanya makan KFC? Di dekat KFC tersedia beragam stall seafood yang segar-segar banget. Meskipun agak mahal, but it’s worth every damn rupiah!

 

Hari Kedua: Overland Bajo

Hari ke-2 aku tetap solo. Ada banyak yang menyewakan motor untuk keluyuran kurang lebih tour labuan bajo, sehari kurang lebih 75.000 IDR. Ada lebih dari satu wilayah yang mampu menjadi destinasi overland sekitaran Bajo, yakni Gua Batu Cermin, Gua Rangko, Bukit Sylvia dan beraneka kafe disekitaran Bajo. Pagi aku memastikan untuk gas ke Goa Batu Cermin.

Tips: Jangan yakin Google Map ke sini, gara-gara dikasih melalui jalan kecil yang ujungnya rumah orang hahaha!. Ketika aku sampai, pintu gerbang ke arah Gua sedang dibangun untuk semacam tourist center gitu.

Setelah berbincang-bincang dengan para pekerja bangunan, yang ternyata orang Semarang, aku gas jalan kaki trekking ke mulut Gua yang kurang lebih 500 meter berasal dari tempat pembangunan tadi. Benar-benar sendirian tidak tersedia orang. Jalur trekkingnya juga sedang diperbaiki dipasangi batu-batu kasar.

Masuk mulut Gua, keluar lumayan besar dan tentu saja sunyi. Saya panjat-panjat masuk, dan tersedia celah lumayan besar di Gua berikut agar kecuali pas basah kena hujan tentu cantik sekai. Setelah explore lumayan dalam, ternyata aku tadi masuk melalui pintu keluar. Di pintu masuk Gua, menurut foto sih tersedia tangga, namun ternyata tangga nya sedang dirobohkan untuk dibangun baru. Tebingnya lumayan tinggi kurang lebih 3 meter.

Tidak tersedia jalan lain, aku selanjutnya melompat sehabis di awalnya tas aku turunkan pelan-pelan menggunakan tali agar kamera didalamnya tidak hancur berantakan kecuali di lempar. Hasil berasal dari lompatan tadi adalah celana aku sobek lumayan besar.

Sehingga tidak mampu dipakai Kembali. Yasudah, selanjutnya aku balik ke hotel motoran dengan celana sobek. Tidak apa-apa dilihatin orang juga, wong tidak tersedia yang kenal.

Rencana untuk lanjut ke Gua Rangko aku urungkan gara-gara lebih dari satu hal, yang pertama, Gua Rangko butuh perahu untuk menyeberang, agar bakal tingkatkan cost kecuali solo. Kedua, dengan cuaca yang sedang mendung dan mau hujan, tidak pas untuk berkunjung ke Rangko.

Akhirnya siang sampai sore (yang kemudian turun hujan deras) aku habiskan di hotel untuk packing kembali barang bawaan dan membereskan lebih dari satu kerjaan. Yak aku bawa laptop. Sorenya, aku keliling ke kafe untuk menyaksikan sunset. Saya pilih kafe Escape Bajo. View sunset-nya juara!

 

Hari Ketiga: Berlayar Labuan Bajo

Pagi hari ketiga aku check-out dan dijemput mirip driver berasal dari Waturanda Trip. Untuk ketemu teman-teman peserta open trip yang lain. Total tersedia 10 peserta, lakinya Cuma 4 mba-mbaknya 6. Ada yang berasal dari Jakarta, Kalimantan, Temanggung dan Cirebon. Teman baru gaes.

Setelah perkenalan dan briefing berasal dari guidenya, kapal yang kami naiki angkat jangkar menuju destinasi pertama: Pulau Kelor. Pulai kecil ini viewnya mantap lahir batin. Meski perlu trekking bentar ke atas bukit, namun seluruhnya terbayar lunas Ketika udah sampai diatas.

Di bawah juga tersedia yang jual minuman meski, tentu saja, harganya juga mantap jiwa. Selepas foto-foto syahdu bahan konten, kami balik ke kapal untuk makan siang. By the way, walaupun di kapal, makanannya sedap jaya.
Perjalanan lanjut ke spot snorkeling pertama: Manjarite.

Menurut aku pribadi, underwaternya B-aja, namun kecuali sambil menyaksikan sekeliling yang dikelilingi bukit hijau, maka spot ini cantik sekali. Sayangnya aku lupa gak pake dome untuk kamera agar tidak mampu capture underwater mirip pemandangan kurang lebih secara bersamaan.

By toha