Fri. Aug 12th, 2022

Ketemu lagi serupa drama anak muda yang dipenuhi mimpi dan semangat. Mengandung vibes yang serupa bersama drama Start Up dua tahun lalu, kini ada Twenty Five Twenty One (스물다섯 스물하나) yang mengambil alih slot Bulgasal: Immortal Soul yang sudah rampung di awal Februari. Twenty Five Twenty One disiarkan oleh tvN dan kita mampu menontonnya via streaming Netflix tiap tiap akhir pekan jam 7 malam WIB.

Dalam jangka selagi 4 tahun, kehidupan mampu jadi begitu lambat, mampu jadi langsung jungkir balik. Termasuk saat mengalami fase transisi dari remaja penuh suka ria menuju kehidupan dewasa yang kompleks. Na Hee Do dalam drama ini mengingatkan uraian era remaja aku (dan kemungkinan remaja terhadap umumnya) di tahun ’98. Oke, kini ketahuan angkatannya ya.

 

Mulai dari style berpakaian, selera musik, dan pola pergaulan. Di tahun-tahun berikut aku termasuk lewat hal-hal yang tidak jauh beda dari yang dialami Na Hee Do: susah membangun komunikasi bersama orang tua, punya mimpi yang tidak jelas bagaimana mewujudkannya, rajin menyambangi persewaan komik dan dvd, chatting serupa anonim, termasuk termasuk lewat era krisis moneter yang mengguncang dunia selagi itu…

Waaaa, sepenuhnya gue banget! Jadi, nonton Twenty Five Twenty One ini buat aku senyum-senyum mengingat era lalu yang rasanya baru tempo hari berlalu. Jadi dewasa sesungguhnya enggak kerasa, kemungkinan begitu yang dirasakan Baek Yi Jin saat wajib hadapi kasus keluarga yang sangat rumit begitu usianya menginjak 20 tahun ke atas.

 

 

Link streaming film alternatif : filmcinema21 movie

 

Sinopsis Twenty Five, Twenty One Na Hee Do (Kim Tae Ri) adalah bagian tim anggar SMA putri yang skill-nya so so. Sebagaimana orang tua kebanyakan terhadap selagi itu, ibunya tidak begitu menunjang passion-nya terhadap anggar, tetapi memintanya fokus belajar. Puncaknya, saat dunia mengalami krisis moneter, klub-klub sekolah banyak yang dibubarkan gara-gara kekurangan dana. Salah satu klub anggar sekolah yang bertahan ada di SMA Tae Yang, yang punya atlet nasional peraih medali emas, Ko Yu Rim (Bona). Yu Rim adalah idola Hee Do sepanjang ini, dan jadi motivasinya giat berlatih gara-gara mengidamkan berprestasi layaknya Yu Rim.

Setiap Sabtu, Hee Do mendatangi SMA Tae Yang hanya untuk lihat sesi latihan Yu Rim di gimnasium. Maka saat sekolahnya membubarkan klub anggar, Hee Do bertekad ia wajib tukar ke SMA Tae Yang sehingga selalu mampu bermain anggar. Usaha Hee Do untuk satu liga bersama Yu Rim tidak sia-sia. Ia berhasil ada dalam satu klub anggar bersama Yu Rim dan berada di dunianya yang saling berhubungan. Dari idola jadi saingan, begitu pertalian awal pada mereka dari empat episode pertama Twenty Five Twenty One ini.

Sementara itu, krisis finansial termasuk menghantam usaha keluarga Baek Yi Jin (Nam Joo Hyuk) yang jatuh bangkrut dan sebabkan semua bagian keluarga tercerai-berai. Sebagai anak sulung, Yi Jin wajib belajar hidup dan menafkahi dirinya sendiri bersama jadi loper koran dan penjaga toko persewaan komik. Bagi Yi Jin, hidupnya sudah berakhir sejak putus kuliah dan tidak punya apa-apa. Tujuannya hanya cari pekerjaan sehingga mampu menghimpun keluarganya lagi dan mengidamkan mampu membayar utang-utang ayahnya terhadap karyawannya.

Kalau baca trailer sih, nantinya Yi Jin jadi reporter olahraga di stasiun tv daerah ibunya Hee Do bekerja. Di episode berapa dia terasa mendapat kebahagiaan? Ya menanti aja, chingu, mari menikmati Nam Joo Hyuk yang polos dan sederhana. Gaya dia selagi melamun menahan tangis serupa sekali bersama Nam Do San selagi planga-plongo diajarin usaha serupa Han Ji Pyeong, hihi. Alur Twenty Five, Twenty One Drama ini punya urutan maju-mundur di mana di episode awal kita disuguhkan bersama situasi era kini selagi pandemi. Kemudian ceritanya flashback ke tahun 1998, sesekali ke 1994, kemudian maju lagi ke era kini.

Kalau bocoran dari Netflix tuh begini: In 1998, twenty-two and eighteen meet for the first time and called each others’ name. When they became twenty-three and nineteen, they hurt each other. In the year of twenty-four and twenty, they relied on each other. And they loved only when they were twenty-five and twenty-one. Nah, kronologi cerita dia tas sudah sangat jelas yah.

Tinggal ngikutin bagaimana cerita dan konfliknya dibangun bersama menarik di tiap tiap episodenya. Tenang saja, bolak-balik alurnya nggak memusingkan, kok. Mungkin ada pertanyaan perlu di awal perihal anak perempuan yang bernama Kim Min Chae. Tahan pernah ya, chingu deul … Pelan-pelan dapat terjawab kok bersamaan episodenya bertambah. Cast Twenty Five, Twenty One Kim Tae Ri did very well *applause duluuuu*. Memerankan anak 18 tahun di usia 32 tahun pasti sangat menantang, baik dari gesture maupun penampilan. Tapi apa sih yang Kim Tae Ri nggak bisa? Drama yang dia mainkan selalu berkualitas, dan aku yakin aktingnya jadi serupa drama ini termasuk optimis sampai dengan Drama Korea Tamat.

Sebagai line 90, Tae Ri sedikit banyak pernah jelas lah gejolak di tahun ’98 jadi harusnya sih ada bayangan hidup di era itu. Bagi aku sudah pas banget dia dimainkan sebagai Na Hee Do yang demen teriak-teriak dan ekspresif, gemes paraaahh … Sikap Hee Do di sini dibikin natural ala anak remaja yang ceria dan easy going. Saya termasuk puas Na Hee Do diceritakan kerap berlangsung dan berlari kemana-mana, ya sesungguhnya begitu anak zaman segitu, kita banyak lari tanpa kuatir keringetan dan kehujanan. Semangat dan style anak late 90-an sesungguhnya beda, haha.

 

By toha