Fri. Jan 28th, 2022

Fokus dalam mencetak generasi-generasi Qur’ani, Sebelum melanjutkan artikel Memahami Ciri Khas Pesantren Muhammadiyah, Sekedar kami info:

Apabila Anda Mendambakan putra/putri untuk menjadi Tahfidz kunjungi website Pondok Pesantren Tahfidz

Tapak Muhammadiyah dalam bangun instansi pengajaran tidak resmi ditampakkan lewat ponpes, boarding school dan pondok tahfiz. Boarding School di Muhammadiyah sebutannya “Muhammadiyah Boarding School” (MBS). Pondok Tahfiz Quran punya Muhammadiyah dapat ditemui di Yogyakarta dan Ngantang, Kabupaten Malang.

Ciri-ciri Unik Pesantren Muhammadiyah

Ponpes Muhammadiyah menyebar di banyak kota dan kabupaten. Pondok pesantren Kekinian Muhammadiyah Kwala Madu di Kabupaten Langkat, Pondok pesantren Darul Arqom, Metro, Lampung, Pesantren Darul Arqam di Garut, Pondok pesantren Muhammadiyah At-Tajdid di Cepu, Pondok pesantren Kekinian Imam Syuhodo, Kabupaten Sukoharjo, Pesantren Sains (Trensains) di Sragen, Pondok pesantren Muhammadiyah Kudus, Pondok pesantren Muhammadiyah al-Munawwaroh, kota Malang, Pesantren Muhammadiyah di Ponorogo sampai Pondok pesantren Kekinian Muhammadiyah al-Furqon di Banjarmasin.

Ponpes Muhammadiyah mempunyai ciri-ciri yang harus dimengerti orang pemula. Dibahas dari posisi pemilikan, pesantren merupakan amal usaha Muhammadiyah (AUM), di bawah supervisi pengurus cabang dan pengurus wilayah Muhammadiyah (PDM).

Skema kepimpinan pesantren Muhammadiyah tidak semacam pada pesantren yang berafiliasi ke Nahdlatul Ulama (NU). Di Muhammadiyah, kepimpinan terdapat sifat berkelompok. Ada direktur dan dewan pengasuh yang terbatasi waktu seperti juga kedudukan presiden dan kepala wilayah. Kapan saja dapat dihentikan di tengah-tengah jalan. Tidak tahu di unjuk rasa santri atau dirasa PDM tidak bawa perkembangan dan perombakan positif untuk pesantren.

Mudir dan pengasuh pesantren tentu kader Muhammadiyah. Di pesantren Muhammadiyah Ponorogo dan kota Malang, pengasuhnya berkumpul ke Korps Muballigh Muhammadiyah. Tidak hanya itu berdasarkan Petunjuk Islami Penduduk Muhammadiyah, pengasuh, guru sampai pegawai memiliki hak mendapatkan penghasilan yang wajar. Rutinitas menggaji pengasuh terang tidak serupa dengan kultur pesantren yang berafiliasi dengan NU.

Ciri-ciri selanjutnya, sejumlah pesantren Muhammadiyah ada unit panti arahan. Panti arahan ini memberinya beasiswa bukan cuma untuk keluarga berdasar Muhammadiyah, akan tetapi untuk orang umum. Dibahas susunan kurikulum, kecuali Madin, pesantren Muhammadiyah diperlengkapi Kemuhammadiyahan, Hizbul Wathan dan Tapak Suci.

Ritus keagamaan di pesantren Muhammadiyah simpel dikenal. Sholat Subuh tiada qunut, tak ada ritus tahlilan, juga rutinitas peringatan haul pendiri dan pengasuh pesantren. Pengasuh Pesantren Muhammadiyah tak mempunyai wiridan privat dan amaliah tarekat Sufi sebagai halnya diketahui di pengasuh pesantren yang berafiliasi ke NU.

Paling akhir, usul untuk Persyarikatan Muhammadiyah. Pertama, bentuklah majelis yang privat menanggulangi ponpes. Tidak serupa di antara meningkatkan kampus, sekolah dengan pesantren. Pesantren lebih ruwet. Beberapa orang yang duduk di majelis ini penting berdasar pesantren. Kalaupun memercayakan supervisi PCM dan majelis Dikdasmen di PDM, terang tak optimal.

Ke-2 , butuh diterangkan visi dibangunnya satu ponpes? Membuat kiai yang faqih atau cuman kader biasa. Baiknya konsentrasi di membuat kiai, pasalnya di persyarikatan berlangsung kelangkaan. Penceramah telah banyak, sementara masih sangat jarang kiai yang faqih.

Ke-3 , pesantren Muhammadiyah mesti mengurangi budaya memperalat santri. Contoh-contohnya santriwati diperintah mencucikan busana bu Nyai, jadi juru kampanye calon legislatif berdasar Muhammadiyah sampai disuruh mengawasi hewan piaraan punya kiai.

By nasya