Fri. Aug 12th, 2022

Indonesia merupakan negara yang kaya bakal sumberdaya alam. Sumberdayaalam, baik itu yang renewable atau terbarukanmaupun yang non renewable atau tak terbarukan merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia.

Salah satu sumberdaya alam yang kita memiliki adalah tambang minyak dan gas (MIGAS), yang terhitung dalam golongan sumberdaya non renewable. Komite Eksplorasi Nasional Minyak dan Gas Bumi perlihatkan Indonesia tetap memiliki potensi migas meraih 222,85 miliar barel ekuivalen oil (barel setara minyak).

Yang paling fenomenal merupakan potensi migas di laut Natuna. Cadangan minyak bumi di Kabupaten Natuna meraih 298,81 juta barel minyak, sedang cadangan gas bumi meraih 55,3 triliun kaki kubik. Laporan itu perlihatkan bersama estimasi memproduksi maksimum 1 triliun kaki kubik per tahun, diperkirakan usia cadangan meraih 50-100 tahun.

Sektor migas merupakan tidak benar satu andalan untuk meraih devisa dalam rangka kelangsungan pembangunan Negara. Hingga kini kegunaan sektor Migas benar-benar penting dalam perekonomian Indonesia karena porsinya yang benar-benar besar dalam penerimaan negara.

Namun, tersedia bermacam persoalan yang muncul. Seperti dalam hal pengelolaan maupun birokrasinya. Permasalahan Mendasar Sektor Migas Indonesia yakni tidak benar satunya adalah cadangan energi fosil relatif rendah dibandingkan bersama perkembangan konsumsi.Permasalahan lainnya adalah pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) yang stagnan.

Pasalnya, tidak tersedia peta jalan, cetak biru, dan program pengembangan energi berkelanjutan.Seperti yang kita ketahui betapa banyaknya potensi migas di Indonesia, namun yang menjadi pertimbangan sementara ini adalah biaya eksplorasi untuk pengerjaan wilayah kerja laut dalam tetap benar-benar mahal.

Berbagai drama pun muncul dalam kaitannya deSngan sektor penyokong perekonomian kita ini. Freeport tidak benar satunya. Banyak kalangan meminta bahwa penunjukan Ignasius Jonan sebagai Menteri ESDM yang baru, terhadap pertengahan oktober lalu bisa mengakhiri kontrak antara Indonesia dan Amerika dalam kasus Freeport ini. Indonesia diharapkan bisa mengelola secara swadaya kekayaan alam emas Papua.

Poin paling penting yang menjadi catatan adalah bagaimana Indonesia bisa mengelola cadangan energi fosil yang tambah sedikit ini. Perlu terdapatnya solusi nyata yang dikembangkan. Indonesia wajib mengembangkan energi alternatif seperti bioetanol yang bisa dijadikan solusi pengganti minyak dengan menggunakan Flow Meter LC.

Selain itu, wajib terdapatnya perbaikan birokrasi bersama hukum yang lebih tegas dan kebijakan yang sesuai, seperti perincian UU mengenai Migas. Masyarakat terhitung diharapkan bisa kurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi, yang mana menjadi penyumbang terbesar penggunaan sektor migas di tanah air.

By toha