Sat. May 21st, 2022

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengumumkan penggabungan empat BUMN pelabuhan. Keempat BUMN pelabuhan tersebut adalah PT Pelindo I (Persero), PT Pelindo II (Persero), PT Pelindo III (Persero), dan PT Pelindo IV (Persero). Dengan peleburan ini maka akan menjadi Pelabuhan Indonesia (Persero).

Direktur Utama PT Pelindo II, Arif Suhartono mengungkapkan, ada beberapa inisiatif strategis atau rencana kerja akan dilakukan selama lima tahun ke depan setelah terbentuknya integrasi Pelindo. Pada tahun ini sampai 2022, Pelindo akan fokus pada penyelarasan bisnis, pasca integrasi melalui standarisasi dan integrasi operasional dan komersil untuk peningkatan kualitas pelayanan.

“(Tahun pertama) kita akan melakukan investasi terintegrasi untuk pengembangan bisnis hingga reorganisasi perusahaan dan pengembangan budaya terintegrasi,” kata dia dalam konferensi pers, Rabu (1/9).

Selanjutnya pada 2023-2024, Pelindo akan melakukan pengembangan bisnis melalui strategic partnership. Ini dilakukan melalui kolaborasi dengan pelayaran domestik maupun global untuk peningkatan konektivitas laut.

Kemudian untuk 2025, Pelindo baru akan melakukan persiapan rencana ekspansi regional dan internasional. Pada tahun tersebut, Pelindo berkeinginan untuk mengepakan sayap menuju go Internasional.

Selain itu, Pelindo juga akan melakukan peningkatan pemanfaatan teknologi digital dalam bisnis ke pelabuhan dan bisnis mendukungnya. Serta penguatan dukungan konektivitas dan ekosistem logistik melalui kerja sama dengan kawasan industri untuk peningkatan arus barang.

 

Baca rekomendasi : Perusahaan Bongkar Muat

 

 

Alasan Pelindo II Menjadi Surviving Entity

PT Pelindo II (Persero) akan menjadi entitas yang menerima penggabungan (surviving entity) usai merger dilakukan. Artinya Pelindo II akan menjadi induk dari Pelindo hasil merger.

Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan alasan Pelindo II dipilih sebagai surviving entity, karena model bisnis maupun pelayanan Pelindo II lebih baik dibanding Pelindo I, III, dan IV sehingga menjadi leading sektor keseluruhan Pelindo.

“Kalau kita lihat dari best practise kepelabuhanan pencapaian pelayanan Pelindo II, ada di leading sector, sehingga kita berharap nantinya justru dari Pelindo yang lain menyesuaikan model bisnis maupun layanan dan efisiensinya untuk bisa mencapai sebagaimana yang ada di Pelindo II,” kata Wamen BUMN II, dalam Konferensi pers Rancangan Penggabungan PT Pelabuhan Indonesia I, II, III dan IV (Persero), Rabu (1/9).

Wamen BUMN II yang kerap disapa Tiko ini menekankan, bahwa surviving entity tidak terlalu relevan dengan konteks pasca merger Pelindo. Karena setelah pasca merger, akan diluncurkan 4 subholding yang bertugas sebagai operating holding.

“Surviving entity ini lebih sebagai strategic holding bukan operating holding, yang akan mengoperasi Pelindo adalah 4 subholding yang ada dibawahnya yaitu Pelindo Petikemas, Pelindo Non Petikemas, Pelindo Marine dan Equipment dan Pelindo Logistik,” jelasnya.

Sehingga 4 sub holding tersebut akan muncul sebagai perusahaan baru yang mempunyai bisnis model yang lebih fokus dan diharapkan bisa meningkatkan nilai yang lebih besar bagi Pelindo.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Pelindo I Prasetyo menambahkan, Pelindo II dipilih sebagai sebagai surviving entity, karena dilihat dari hasil evaluasi bisnisnya yang paling unggul adalah Pelindo II.

“Kita melihat dalam proses merger ini telah dilakukan evaluasi dari masing-masing Pelindo termasuk dalam evaluasi bisnisnya. Dari evaluasi tersebut maka didapatkan Pelindo II ini memiliki evaluasi yang paling bagus dan memiliki infrastruktur yang paling lengkap sehingga kedepannya Pelindo II paling tepat menjadi surviving dari merger ini,” pungkasnya.

By toha